Indonesia dan Amerika Serikat Komitmen Perluasan Program Fulbright

Indonesia dan Amerika Serikat Komitmen Perluasan Program Fulbright
Menteri Agama Indonesia dan Dubes AS tandatangani nota kesepahaman tentang program Fulbright. (kemenag.go.id)

GoIKN.com – Nota kesepahaman terkait kerja sama perluasan Program Fulbright Departemen Luar Negeri AS antara Indonesia dengan Amerika Serikat telah ditandatangani resmi oleh kedua belah pihak.

Indonesia diwakili Menteri Agama Nasaruddin Umar, sedangkan Amerika Serikat melalui Duta Besar Kamala S. Lakhdhir. Momentum penting penandatanganan dilakukan hari ini, Rabu (8/1/2025).

Melansir laman resmi kemenag.go.id, ini adalah program beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk lembaga maupun individu binaan Kementerian Agama (MORA).

Disepakatinya MoU merupakan tindak lanjut atas surat pernyataan yang diteken Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Diplomasi Publik, Y.M. Elizabeth Allen dan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama saat itu, yakni Nizar Ali.

Kolaborasi tersebut dinilai sebagai salah satu bagian dari usaha untuk memperkuat program pertukaran pelajar, serta budaya antara kedua negara.

“Hari ini saya menandatangani MoU dengan Dubes AS untuk perluasan program Fulbright di Indonesia. Ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama untuk terus memperluas akses beasiswa bagi siswa dan santri pada lembaga pendidikan menengah binaan Kementerian Agama, serta civitas academica Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) untuk kuliah di Amerika,” ungkap Menag Nasaruddin Umar.

Menariknya, Menag mengaku bahwa dirinya termasuk salah satu penerima Fulbright Scholar yang ikut serta merasakan langsung manfaat dari program tersebut.

Nota kesepahaman ini membuka jalan kesempatan bagi para siswa, santri, mahasiswa, maupun akademisi di lembaga pendidikan menengah dan tinggi yang berada dalam binaan Kementerian Agama.

Tujuannya supaya mereka mendapat beasiswa studi atau penelitian yang bergelar dan nongelar. Pun sebaliknya, peluang bagi akademisi dan mahasiswa Amerika untuk mengajar hingga melakukan penelitian bersama di lembaga-lembaga binaan Kemenag juga terbuka.

Madrasah/pesantren bisa mengundang Asisten Pengajar Bahasa Inggris (ETA) Fulbright AS untuk mengajar bersama Bahasa Inggris.

Lebih lanjut, dosen lembaga pendidikan tinggi keagamaan binaan Kemenag pun dapat mengajukan permohonan beasiswa penelitian di perguruan tinggi AS yang terlibat sebagai mitra.

Keuntungan yang lain, mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan binaan Kemenag pun berhak mengajukan permohonan beasiswa untuk studi gelar tingkat pascasarjana di tingkat perguruan tinggi Amerika Serikat.

“Kami sangat gembira atas kemitraan ini. Saya berharap dapat melihat dampak program Fulbright terhadap lembaga-lembaga dan para akademisi Kementerian Agama, baik di AS maupun di Indonesia, serta dampak jangka panjangnya yang tak terealakkan akan terjadi pada kedua negara kita,” tutur Dubes Lakhdhir.

Perlu diketahui, program Fulbright adalah program pertukaran akademik dari Pemerintah AS yang telah didirikan sejak tahun 1047 dan terus beroperasi hingga saat ini.

Program tersebut juga aktif di lebih dari 160 negara, dan masuk ke tanah air mulai 1952.

Tinggalkan Komentar