20 Persen Anak Indonesia Kekurangan Peran Ayah, Pemerintah Inisiasi Program Strategis

20 Persen Anak Indonesia Kekurangan Peran Ayah, Pemerintah Inisiasi Program Strategis
Menteri PPPA ingatkan pentingnya peran ayah dalam pola pengasuhan yang baik. (kemenpppa.go.id)

GoIKN.com – Merujuk data milik Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 20% anak di Indonesia kekurangan perhatian dari sosok ayah.

Padahal pola asuh yang baik dalam keluarga memberikan pengaruh besar terhadap pencegahan kekerasan perempuan dan anak. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri PPPA, Arifah Fauzi saat hadiri talkshow Festival Keluarga Indonesia di Jakarta.

Keluarga dinilai sebagai tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan maupun perlindungan. Oleh karena itu, para calon pengantin harus menerima bimbingan perkawinan agar pemahaman terkait pola asuh dimiliki dengan baik.

Apalagi pengasuhan merupakan menjadi tanggung jawab utama ayah dan ibu. Demi mengurangi fenomena fatherless di tanah air, pemerintah bergerak membentuk program yang strategis.

Sosok ayah mempunyai peran penting dalam perkembangan aspek sosial dan emosional anak, yang bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka di masa depan. Stereotipe berbasis gender dalam pengasuhan perlu dihilangkan.

Misalnya dengan mengajarkan anak laki-laki dan perempuan untuk berbagi tanggung jawab dalam pekerjaan rumah tanpa perlu membedakan berdasarkan jenis kelamin.

“Sebagai upaya mendukung peran ayah dalam pengasuhan anak, beberapa daerah telah menginisiasi gerakan ayah, di mana para ayah diwajibkan untuk lebih aktif dalam mengasuh anak, termasuk menemani anak ke sekolah dan mengambil rapor,” ungkap Menteri Arifah dalam siaran pers yang dibagikan kemenpppa.go.id, Minggu (2/2/2025).

Lebih lanjut, Arifah juga menekankan bahwa orang tua harus memiliki strategi dalam membimbing anak agar mereka mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, dan terlindungi dari dampak negatif seperti kecanduan gawai, eksploitasi online, maupun paparan konten yang tidak sesuai.

Talkshow yang menjadi rangkaian dari Harlah NU ini mengangkat konsep pola asuh yang diterapkan oleh keluarga Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah Wahid. Sebagai warga NU, keluarga Gus Dur memang dikenal sebagai teladan dalam membesarkan anak-anak mereka dengan menanamkan nilai berpikir kritis, kemandirian, serta menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.

“Prinsip Mu’asyarah Bil Ma’ruf dalam rumah tangga harus dijunjung tinggi, di mana suami dan istri saling mendukung dalam membangun keluarga yang harmonis. Keluarga adalah pilar utama dalam membangun generasi yang berakhlak dan mandiri,” kata Sinta Nuriyah.

Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG), yang dikeluarkan Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden Indonesia sampai sekarang masih menjadi dasar dalam strategi pembangunan nasional.

Bahkan PUG tersebut pun menjadi pedoman bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam mengembangkan kebijakan yang berdampak positif bagi perempuan dan anak.

Tinggalkan Komentar