Menteri Lingkungan Hidup Soroti Permasalahan Sampah Laut, Ambil Langkah Strategis dengan Mendikdasmen
GoIKN.com – Hanif Faisol Nurofiq yang menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup blak-blakan menyoroti persoalan sampah laut. Di mana 80 persen sampah ini berasal dari daratan.
Hal tersebut disampaikan ketika Hanif mengikuti rangkaian Aksi Bersih Sampa Laut di Pantai Kuta, Bali bersama dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti beserta sederet pejabat tinggi yang lain.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, termasuk dengan melibatkan berbagai pihak. Tak terkecuali dari dunia pendidikan.
Paradigma pengelolaan sampah harus bergeser dari penanganan di tempat pembuangan akhir menuju ke pengelolaan di tingkat hulu, demikian kata Hanif.
Aksi Bersih Sampah Laut di Pantai Kuta yang melibatkan 2.115 peserta dari berbagai latar belakang menjadi bagian dari komitmen. Ada siswa, komunitas masyarakat, tenaga kebersihan, hingga penggiat lingkungan.
Seluruh peserta dibagi ke dalam 10 zona sepanjang dua kilometer untuk mengumpulkan sampah secara terpilah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, memperkuat strategi pengelolaan sampah, dan menjadi langkah konkret dalam penanganan sampah laut di Bali. Harapan kami, Bali dapat menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah laut,” ujar Hanif sebagaimana mengutip infopublik.id, Minggu (5/1/2025).
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Lingkungan Hidup juga meneken Memorandum of Understanding atau MoU yang salah satu poin utamanya, yaitu membahas tentang peningkatan jumlah maupun kualitas sekolah Adiwiyata.
Sekolah Adiwiyata ini adalah sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan pada seluruh aktivitas.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Mu’ti menegaskan pentingnya menangani masalah dari hulu melalui pendekatan yang berbasis pendidikan.
“Pendidikan dasar adalah fondasi penting untuk membentuk generasi yang mencintai alam dan peduli terhadap pelestarian lingkungan. Kerja sama ini akan mendorong terciptanya budaya bangsa yang berwawasan lingkungan dan beradab,” jelas Mendikdasmen Mu’ti.
“Membersihkan sampah itu penting, tetapi lebih penting lagi menanamkan cinta lingkungan dan budaya hidup bersih sejak dini. Guru memiliki peran besar dalam memberikan pencerahan kepada siswa agar senantiasa hidup bersih dan sehat,” tambahnya.
Nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua Menteri pun bertujuan guna memastikan bahwa pendidikan tak hanya mengajarkan nilai akademis saja, melainkan ikut serta menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan.
Langkah strategis itu diharapkan melahirkan generasi muda yang terampil mengelola sampah sejak dini.
Kesepakatan bersama Kementerian Lingkungan Hidup diperlukan guna meningkatkan jumlah sekolah Adiwiyata, sekaligus menumbuhkan kesadaran dalam diri generasi muda supaya sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.
“Dengan kolaborasi ini, kita dapat memastikan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang. Mari kita bersama-sama mewujudkan Indonesia yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Kehadiran Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut pun turut menjadi dasar penting dalam upaya tersebut.
Namun pada segi penerapan, tentu dibutuhkan kerja sama yang erat dari berbagai pihak. MoU ini merupakan salah satu langkah strategis untuk menyeleraskan pendidikan dan pengelolaan lingkungan.
BACA JUGA
