Wabah ASF Tak Menular ke Manusia, Kepala Barantin Ungkap Dampak Negatifnya
GoIKN.com – Wabah Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) yang sedang melanda sejumlah wilayah di Indonesia memang tidak menular kepada manusia, tetapi dampak negatif tentunya tetap ada.
Pemerintah terus memperkuat langkah koordinasi nasional demi menangani wabah tersebut. Kepala Badan Karantina Nasional Indonesia (Barantin), Sahat M. Panggabean mengatakan bahwa situasi ini memberi dampak ekonomi yang signifikan.
Terutama bagi para peternak, menyusul tingkat kematian babi yang terinfeksi mencapai angka 100 persen. Kendati demikian, Sahat memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah pencegahan yang komprehensif.
“Salah satunya kami telah meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI-Polri untuk memperketat pengawasan di perbatasan dan jalur transportasi,” ujar Sahat kepada InfoPublik, Rabu (18/12/2024).
Salah satu wilayah yang memiliki lonjakan kasus ASF adalah Papua. Diduga virus ini masuk melalui daging babi yang dibawa oleh penumpang, atau melewati jalur-jalur distribusi ilegal.
Kasus pertama di Papua terdeteksi pada Januari 2021 lalu, dugaan awal dibawa oleh pekerja yang kembali dari liburan akhir tahun. Ditambah kondisi geografis Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini sehingga membuat pengawasan makin rumit.
Di sisi lain, keberhasilan Provinsi Bali dalam menangani wabah ASF sejak tahun 2019 meningkatkan optimisme pemerintah.
“Ini dapat menjadi referensi strategis. Koordinasi erat antara karantina, pemerintah daerah, dan Kementerian Pertanian terbukti menjadi kunci keberhasilan,” kata Sahat.
2019 lalu, Bali sempat menjadi episentrum ASF. Kemudian berhasil pulih, bahkan mampu memasok daging ke Kalimantan maupun Sulawesi.
Beberapa langkah utama yang diambil Bali guna mengendalikan wabah antara lain penerapan biosekuriti ketat, penggunaan disinfektan, serta edukasi kepada masyarakat.
Sahat mengungkap, “Bali menunjukkan bahwa meskipun belum ada vaksin untuk ASF, wabah ini dapat diatasi melalui langkah-langkah preventif yang terpadu. Strategi serupa akan diterapkan di Papua dan wilayah lain yang terdampak.”
Rencana aksi lintas kementerian dan lembaga untuk menanggulangi ASF juga terus disusun oleh pemerintah. Misalnya, Kementerian Pertanian yang mengambil langkah strategis seperti mengendalikan penyebaran ASF lewat surveilans dan deteksi dini.
Dilanjut dengan mempercepat penelitian dan pengembangan vaksin, maupun menyediakan serum konvalesen guna meningkatkan imunitas ternak.
Barantin pun berupaya menjamin kesehatan komoditas di pelabuhan, bandaran, dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Kemudian turut mengawasi mutu pangan dan pekan, serta melakukan disinfeksi di instalasi karantina hewan. Edukasi terhadap masyarakat dan stakeholder terkait juga aktif dilakukan.
Kepala Barantin menegaskan tentang pentingnya peran masyarakat dalam mencegah penyebaran ASF. Ia mengimbau para peternak untuk segera melaporkan kasus ternak yang sakit ke pihak-pihak berwenang.
Ternak yang terinfeksi harus dimusnahkan secara aman, contohnya lewat pembakaran atau penguburan agar menghindari penyebaran lebih luas.
“Kami juga meminta masyarakat untuk tidak membawa produk daging babi ke wilayah Papua, baik melalui jalur udara maupun laut,” imbuhnya.
Sahat optimis dengan adanya koordinasi yang kuat, Papua dan wilayah terdampak lain bisa mengatasi wabah ASF dengan baik. Pihaknya siap memfasilitasi kunjungan hingga pelatihan bagi peternak maupun daerah untuk menerapkan langkah-langkah biosekuriti yang efektif.
Sinergi kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat diyakini membuat peternakan babi di Indonesia akan kembali pulih. Sekaligus memberikan harapan baru bagi peternak yang terdampak wabah ASF.
BACA JUGA
