Mengungkap Pesona Girikerto di Kaki Gunung Lawu

gunung lawu
Desa Wisata Girikerto di Sine, Ngawi, menyimpan kebun teh kolonial, Kampung Belanda, dan mata air Sumber Koso. (Foto: Gununglawu.com)

GoIKN.com – Indonesia merupakan bagian dari Lingkaran Api Pasifik, sebuah wilayah sepanjang 40.550 kilometer di cekungan Samudra Pasifik yang berbentuk tapal kuda. Kawasan ini dikenal sering mengalami gempa bumi, tsunami, serta letusan gunung berapi. Informasi tersebut mengacu pada data yang dirilis oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, yang mencakup 13 persen dari total gunung api aktif dunia. Salah satu di antaranya adalah Gunung Lawu, yang berada di perbatasan Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah), Ngawi, dan Magetan (Jawa Timur).

Gunung Lawu, dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl), terakhir kali erupsi pada 28 November 1885. Abu vulkaniknya kaya akan mineral seperti sulfur dan fosfor, yang berkontribusi pada kesuburan tanah di sekitar lerengnya.

Keindahan Desa Girikerto di Lereng Gunung Lawu

Lereng Gunung Lawu terkenal dengan kesuburannya, salah satunya terlihat di Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Ngawi. Desa wisata ini terletak pada ketinggian 800 mdpl dengan suhu rata-rata 18 derajat Celcius dan curah hujan yang cukup tinggi. Kawasan desa masih dikelilingi hutan konservasi, dengan perkebunan teh seluas 478 hektare di Kampung Jamus sebagai daya tarik utamanya.

Awalnya dimiliki oleh pengusaha Belanda Van de Rappard, kebun teh ini kini dikelola oleh perusahaan swasta. Kampung sekitar perkebunan, yang dihuni oleh sekitar 200 kepala keluarga, dikenal sebagai “Kampung Belanda” karena rumah-rumahnya bernuansa kolonial. Wisatawan sering berkunjung untuk menikmati suasana unik ini, terutama pada akhir pekan.

Desa Girikerto juga memanfaatkan keunggulan lokasinya dengan membangun persawahan terasering. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di desa ini telah menambahkan fasilitas seperti menara pandang untuk menikmati panorama gunung, kebun teh, dan sawah.

Baca Juga:

Keunikan Sumber Koso

Dikutip dari Indonesia.go.id. Desa Girikerto memiliki puluhan mata air alami yang mengalir sepanjang tahun, salah satunya adalah Sumber Koso di Dusun Girikerto. Dengan debit air yang besar, Sumber Koso menjadi sumber air bersih bagi warga dan irigasi sawah. Pemerintah desa menjadikan kawasan sekitar mata air ini sebagai wana wisata, dilengkapi dengan area berkemah dan telaga kecil yang dihiasi ikan koi.

Pengunjung dapat menikmati keindahan Sumber Koso dengan membayar retribusi Rp5.000 sebagai biaya kebersihan. Telaga ini, dengan suasana alami yang asri, menjadi destinasi favorit wisatawan yang mencari ketenangan.

Waktu Terbaik Berkunjung

Musim kemarau, antara April hingga September, adalah waktu terbaik untuk menikmati Desa Wisata Girikerto. Dengan panorama hijau, udara sejuk, dan berbagai fasilitas wisata, Girikerto menawarkan pengalaman liburan yang tak terlupakan di lereng Gunung Lawu. Jadi, jangan lupa masukkan Desa Girikerto dalam daftar destinasi Anda!

Tinggalkan Komentar